Selasa, 09 Agustus 2011

Dampak Kalimah Syahadat


DAMPAK KALIMAH SYAHADAT


Ma’iyatullah, muraqabatullah, ta’yidullah dan nashrullah
Mahabbah dan Ridha
Tsiqah bi wa’dillah

Taat dan tawakal
Muslim kaffah
Mardhatillah
Jannah


Ma’iyyah berasal dari kata ma’a, artinya bersama. Ma’iyyatullah berarti kebersamaan Allah SWT. Ma’iyyatullah ada dua: amah dan khashah. Al-ma’iyyah al-ammah artinya bahwa Allah senantiasa bersama seluruh manusia. Baik tua atau muda, laki-laki atau perempuan, muslim atau kafir. Dengan sifatnya yang Maha Mengetahui (al-‘alim), Maha Melihat (al-Bashir), Maha Mendengar (al-Sami’), Allah akan senantiasa mengetahui dan melihat apa yang dilakukan manusia dan apa yang dikatakannya. 

“Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian istawa di arsy. Dia mengetahui apa yang ada di bumi dan apa yang keluar dari bumi, apa yang turun dari langit dan apa-apa yang naik kepadanya. Dia bersamamu dimanapun kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (al-Hadid 4)


“Tidakkah engkau ketahui bahwa Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi? Tiadalah berbisik tiga orang, melainkan Dia yang keempatnya dan tidak pula lima orang, melainkan Dia yang keenamnya, dan tiada kurang serta tiada lebih melainkan Dia bersama mereka dimana saja mereka berada. Kemudia Dia kabarkan kepada mereka apa-apa yang mereka kerjakan pada hari Kiamat. Sungguh Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu” (al-Mujadilah 7)

Tiadalah satu perkataanpun yang diucapkan seseorang melainkan di sisinya ada Raqib dan Atid” (Qaf 18)


Al-Ma’iyyah al-khashah

“Sesungguhnya perkataan orang-orang beriman, ketika dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menerapkan hukum (Islam) diantara mereka, mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami patuh” dan merekalah orang-orang yang beruntung” (al-Nuur 51)

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan shabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (al-Baqarah 194)

“Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang  yang sabar” (al-Baqarah 194)

Inilah Ayat-ayat yang Dibajak oleh Pendeta Nurdin....

Inilah Ayat-ayat yang Dibajak oleh Pendeta Nurdin....
Kitabullah (Al-Qur’an) dibajak menjadi Alkitab (Bibel)

Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda:
“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), taklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya” (HR. Malik).

Makna “Kitabullah” dalam hadits ini adalah Al-Qur’an, sedangkan maksud “Sunnah Rasul-Nya” adalah Sunnah Nabi Muhammad, yaitu Hadits Nabi SAW. Hadits ini dibajak oleh Pendeta Nurdin menjadi:
“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka) tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Alkitab dan Sunnah RasulNya (Kisah Para Rasul Alkitab)” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran, hlm. 3).

Pembajakan hadits ini karena Pendeta Nurdin buta terhadap kitab sucinya sendiri. Sebab kitab Kisah Para Rasul dalam Alkitab (Bibel) bahasa Arab disebut “A’malurrusul,” bukan “Sunnah Rasulih.”

Hadits lain yang dibajak Pendeta Nurdin adalah sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya seseorang yang berpagi-pagi pergi mempelajari ayat-ayat dalam Kitabullah lebih baik yang seperti itu daripada mengerjakan mengerjakan sembahyang sunat seratus rekaat” (Hadits, Muqaddimah Al-Qur`an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, hlm. 108).

Setelah dibajak, hadits ini berubah total menjadi: “Sesungguhnya seseorang yang berpagi-pagi pergi mempelajari ayat-ayat dalam Alkitab lebih baik yang seperti itu daripada mengerjakan mengerjakan sembahyang sunat seratus rekaat” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran, hlm. 8).

Kata ganti Allah dibajak menjadi Yesus, supaya sesuai dengan doktrin Kristen tentang Ketuhanan Yesus
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur‘an: “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya” (Qs. An-Nisa 172).

Ayat mulia tentang tauhid dan penolakan terhadap doktrin Kristen ketuhanan Nabi Isa ini, dibajak oleh Pendeta Nurdin, sehingga maknanya berubah total menjadi perintah untuk menyembah Nabi Isa (Yesus Kristus):

“Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat kepada Allah. Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya (Almasih) dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran, hlm. 53).

Kata ganti Allah dibajak menjadi Taurat dan Injil
Ayat tentang kesempurnaan Al-Qur‘an dan keesaan Allah SWT: “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” (Qs. Ibrahim 52).

Ayat yang agung ini dibajak oleh Pendeta Nurdin dengan menambahkan kata Taurat dan Injil, supaya terkesan bahwa Alkitab (Bibel) milik umat Kristiani adalah kitab suci yang sempurna:

“Alquran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi PERINGATAN dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya DIA (Taurat dan Injil Isa Allahi Salam) adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang BERAKAL mengambil pelajaran” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran, hlm. 60, kutipan apa adanya dari buku Pendeta Nurdin).

Lafaz “Allah” dibajak menjadi “Allah Ruh Kudus,” untuk mendukung doktrin Trinitas Kristiani
Allah berfirman dalam Al-Qur‘an: “Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (Qs. Al-Ma‘idah 84).

Ayat ini dibajak oleh Pendeta Nurdin dengan mengganti lafaz “Allah” menjadi “Allah Ruh Ulkudus”:

“Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah Ruh Ulkudus dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (Isa Alaihi Salam dalam Alquraan yang Benar, hlm. 19).

Pembajakan ini jelas bermaksud mempelesetkan Al-Qur‘an untuk mendukung doktrin Kristen tentang Trinitas, bahwa Tuhan terdiri dari 3 oknum, yaitu tuhan Bapak, tuhan Anak dan tuhan Roh Kudus

Pembajakan serupa dilakukan Pendeta Nurdin terhadap ayat: “Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)” (Qs. Al-Ma`idah 85).

Setelah dibajak, ayat ini berubah menjadi:

“Maka Allah Ruh Ulkudus memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan (ucapan sesuai dengan iman), (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai (berkah) di dalamnya, sedang mereka KEKAL di dalamnya. Dan itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan yang ikhlas keimanannya” (Isa Alaihi Salam dalam Alquraan yang Benar, hlm. 19).

Kata “Al-Qur`an” dibajak menjadi “Alkitab” supaya kaum muslimin beriman kepada Bibel, kitab suci kristiani
Allah SWT berfirman tentang Al-Qur‘an sebagai kitab suci kebenaran: “Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (Qs. Az-Zumar 1-2).

Ayat ini dibajak Pendeta Nurdin menjadi: “Kitab (Alkitab) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya KAMI menurunkan kepadamu Kitab (Alkitab) dengan membawa KEBENARAN. Maka sembahlah ALLAH dengan memurnikan ketaatan kepadaNya” (Kebenaran Yang Benar, hlm. 92).

Pembajakan ini adalah kesengajaan untuk menggiring kaum muslimin agar beralih dari kepada Alkitab (Bibel).

Ayat serupa yang menjadi korban pembajakan Pendeta Nurdin adalah:
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka” (Qs. Az-Zumar 41).

Ayat ini dibajak Pendeta Nurdin menjadi: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Alkitab untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka petunjuk itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat (tidak membaca Alkitab) maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat kerugian dirinya sendiri” (Kebenaran Yang Benar, hlm. 93).

Itulah sebagian contoh pembajakan ayat yang dilakukan oleh Pendeta Nurdin untuk melegitimasi doktrin Kristiani.

Membongkar Kebohongan Pendeta Rudi Muhamad Nurdin - Pembajakan Al-Qur’an Gaya Pendeta Muhamad Nurdin

Pembajakan Al-Qur’an Gaya Pendeta Muhamad Nurdin
Dari Denmark diluncurkan kartun-kartun yang menghujat Nabi. Di Indonesia pelecehan dirilis, disebarluaskan dan bahkan ditambahi dengan pelecehan model lain.

Seorang laki-laki Arab, kepalanya menyunggi sorban bom dengan sumbu yang siap meledak. Karikatur lainnya memperlihatkan Nabi sebagai orang Baduy dengan mata terbeliak sedang menghunus pedang, ditemani dua wanita berbusana hitam.

Gambaran itu diilustrasikan dalam gambar kartun yang dipublikasikan koran terbesar di Denmark, Jyllands-Posten edisi 30 September 2005. Kemudian diikuti koran terbitan Norwegia, Magzinet edisi tanggal 10 Januari 2006. Negara-negara lain yang latah memuat kartun penghujatan Nabi adalah Jerman, Selandia Baru, dan Prancis.

Dengan alasan “kebebasan kreativitas dan berekspresi yang tak terikat oleh doktrin agama,” harian lokal Prancis France Soir edisi Rabu (1/2/2006) justru sengaja memuat ulang karikatur Nabi Muhammad SAW yang sedang menyulut demo umat Muslim sedunia.

Seolah menantang, koran itu menulis judul utama “Ya, Kami Berhak untuk Mengkarikaturkan Tuhan.” Beritanya dilengkapi dengan kartun “tuhan” dari agama Buddha, Yahudi, Islam dan Kristen melayang-layang di atas awan. Kartun-kartun itu diberi tambahan tulisan: “Jangan khawatir Muhammad, kami semua juga menjadi bahan karikatur.” Lalu 12 gambar kartun terbitan Jylland Posten yang menghina Nabi dimuat di halaman dalam.

Gelombang protes pun mengalir dari negeri-negeri berpenduduk Muslim. Seluruh mata dunia Islam mengutuk Denmark dan negara-negara lain yang memuat kartun penghujatan Nabi. Di Timur Tengah, produk-produk dari negara-negara yang menyiarkan kartun itu diboikot. Bendera Denmark dibakar di setiap aksi demonstrasi. Secara resmi, Indonesia juga menyampaikan protes. Presiden SBY menyampaikan kecaman dan penolakan itu. Sejumlah aktivis Muslim Indonesia secara keras melakukan protes dengan meluruk Kedubes Denmark. Di Makassar, misalnya, aktivis Muslim membakar bendera Denmark

Gayung bersambut, di Indonesia media lokal ikut-ikutan latah menyebarluaskan karikatur penghujatan nabi. Di Bekasi, karikatur penghujatan Nabi itu dipublikasikan pada halaman satu di tabloid Petra edisi nomor 53 tahun II tanggal 2-6 Februari 2006. Tak tinggal diam, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) Bekasi, Ahmad Salimin Dani mengadukan tabloid Peta ke Polres Metro Bekasi. Kini para penanggungjawab tabloid lokal ini sedang ditangani polisi. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi tabloid ini ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal “Menyiarkan gambar yang isinya menyatakan permusuhan dan kebencian,” sesuai pasal 156 a dan 157 KUHP.

Di Surabaya, tabloid Gloria membebek Denmark dengan menampilkan karikatur penghujatan Nabi pada edisi 288, Februari 2006. Pada rubrik “Peristiwa” halaman 10, Gloria mempublikasikan tiga kartun penghujatan Nabi yang melukiskan seseorang yang memakai sorban berbentuk bom. Pada bagian bawah kartun tertulis: “Prophet Mohammad Cartoon.” Tepat di sampingnya, terdapat gambar seorang laki-laki di belakang meja, tangannya memegang poster bertuliskan: “This is Freedom of Expressions.”

Fitnah kepada Nabi ala Pendeta Nurdin
Pendeta yang Mengaku bernama lengkap Pendeta Rudy Muhamad Nurdin yang tinggal di kawasan Grogol, Jakarta Barat ini memang memiliki semangat misionari (penginjilan, Kristenisasi) yang sangat tinggi, terutama kepada umat Islam. Dia berusaha memasukkan doktrin Kristen dan pendangkalan akidah kepada umat Islam. Maka Pendeta yang menjabat sebagai Wakil Gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun, Jakarta Timur ini menulis belasan buku berwajah Islam. Wajah Islam dalam buku-buku Pendeta Nurdin ini hanya kedok belaka. Demikian pula label “Untuk Kalangan Sendiri” yang dicantumkan pada cover 4 semua bukunya. Semua itu hanya tipuan, karena dalam wawancaranya dengan Hatorangan, Pendeta mengaku bahwa sebenarnya buku-buku itu semuanya diperuntukkan untuk umat Islam. (baca wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui Injil Melalui Buku-Buku Saya).

Belasan buku penginjilan berkedok Islam tulisan Pendeta Nurdin itu adalah:
  1. Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an (Al-Aayatul Muhmitatu fil-Qur’an) 84 halaman,
  2. Keselamatan di dalam Islam (61 halaman),
  3. Selamat Natal Menurut Al-Qur’an (28 halaman),
  4. Kebenaran Yang Benar (Ash-Shodiqul Masduuq) 107 halaman,
  5. Kebenaran yang Menyelamatkan (Ash-Shodiiqul Muslim) 79 halaman,
  6. Isa Alaihi Salam dalam Al-Qur’an yang Benar (‘Isa ‘Alaihissalam fil-Qur’an) 84 halaman,
  7. Keselamatan untuk Akhir Hayat (Salamatul Akhirotul Khoyat) 62 halaman,
  8. Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 93 halaman,
  9. Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 77 halaman,
  10. Waspadalah UFO Berbahaya (99 halaman),
  11. Bila Terjadi Kiamat Aku Selamat (86 halaman),
  12. Ya Allah Ya Ruh Ulqudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat (76 halaman),
  13. Waspadalah!!! “….” Itu Selalu Ada (28 halmaan),
  14. Hampir Saya Musnah dan Terungkaplah Sebuah Misteri Dunia (96 halaman),
  15. Bila Terjadi Perang Nuklir Aku Selamat,
  16. Wahyu Tentang Neraka,
  17. Wahyu Keselamatan Allah, dll.
Dengan belasan judul buku itu, Nurdin pun ditokohkan di gereja sebagai “Pendeta Pakar Islamologi.” Maka Pendeta Nurdin dipercaya sebagai islamologi di Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Jakarta. Sedangkan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Nurdin tercatat sebagai Anggota Kelompok Kerja WASAI.

Bila dikaji, hampir semua isi buku Pendeta Nurdin tidak bisa dipertanggungjawabkan. Selalu ada kesalahan ilmiah, bahkan penghujatan kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya isi buku yang salah, bahkan dari judul bukunya pun rata-rata mengalami kesalahan yang sangat fatal.

Buku Kebenaran Yang Menyelamatkan misalnya, pada cover depan judul ini ditulis pula dengan kalimat bahasa Arab “Ash-Shodiiqul Muslim.” Judul ini tentu salah dan artinya sangat jauh meleset, karena “Ash-Shodiiqul Muslim” bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Teman yang beragama Islam.”

Kesalahan judul buku dalam transliterasi Indonesia–Arab ini membuktikan bahwa Pendeta Nurdin bukanlah pakar Islamologi, tapi awam Islamologi. Kita pun merasa heran dan prihatin kepada umat Kristiani di Indonesia yang menjadikannya sebagai pahlawan penginjilan. Karena pada hakikatnya semua ajaran penginjilan, perbandingan agama dan Islamologi yang dipersembahkan Pendeta Nurdin kepada gereja itu penuh kebohongan dan kekeliruan. Bahkan bila dibiarkan, sepak-terjang Pendeta Nurdin itu mencederai dan merobek kerukunan umat beragama. Sebab dalam buku-bukunya, Pendeta Nurdin banyak terdapat pemelesetan ayat, penghujatan Nabi, pelecehan Islam dan kebohongan sejarah.

Beberapa poin yang bisa memicu amarah umat dalam buku-buku Pendeta Nurdin antara lain: Nabi Muhammad Belajar Alkitab (Bibel) Sampai Hafal; Nabi Menikahi Wanita Kristen dengan Tatacara Kristen, dan Mendapat Kado Alkitab (Bibel); Nabi Muhammad Beribadah Kristen selama 15 tahun; Nabi Muhammad Adalah Pencetus Agama Pantekosta dan Kharismatik; dan Nabi Muhammad disamakan dengan Pendeta Nurdin dan Lia Aminuddin (Lia Eden)

Komentar tentang agama lain adalah isu yang paling sensitif dalam hubungan antarumat beragama, lebih sensitif daripada kulit telur, dan lebih bahaya ledakannya daripada bom. Karena bila tersulut, akan mudah meledak dan berdampak pada rusaknya hubungan sesama manusia beragama yang terlibat.

Penghujatan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Pendeta Nurdin dari Indonesia dan Jyllands Posten dari Denmark telah melakukan pencederaan terhadap agama Islam. Dan, jembatan yang selama ini dibangun untuk menjalin kerukunan antarumat beragama pun menjadi berantakan, lantaran akar-akar permasalahan selalu ditanam oleh manusia-manusia jahil yang ditokohkan sebagai ahli agama oleh pihak tertentu. Contoh konkretnya adalah Pendeta Rudy Muhamad Nurdin, sang pemecah-belah bangsa. mag, mai, eros, qohar