Jumat, 09 September 2011

Menyegarkan Kembali Nilai Ekonomi Islam

Sistem Ekonomi Islam telah diposisikan oleh penggagas dan penggiatnya sebagai solusi (bukan alternatif) atas gurita krisis yang menggerogoti kejayaan rezim ekonomi global yang dianggap lekat dengan nilai kapitalisme, sosialisme, neoliberalisme, dan/atau nilai-nilai lain yang dianggap melenceng dari ajaran agama Islam.
Sebagaimana agama Islam itu sendiri, penerapan/implementasi “nilai dan ajaran” Islam akan terus tumbuh dan berkembang sepanjang sejarah manusia. Begitu juga dengan tumbuh kembang konsep dan implementasi nilai dan ajaran Islam di bidang Ekonomi. Nah, apakah penerapan nilai Ekonomi Islam telah berhasil menerjemahkan apa yang dicita-citakan oleh penggagasnya tersebut?
Mari kita cermati satu per satu nilai yang mendasari pembentukan teori Ekonomi Islam, prinsip-prinsip sistem ekonomi yang Islami serta perilaku dalam bisnis dan ekonomi Islam.
Sebagaimana terangkum dalam statement Alquran, ada beberapa nilai-nilai yang dijadikan landasan seseorang dalam bermuamalah, berperilaku, dan secara khusus dalam berekonomi, yaitu: Tauhid (Keimanan), ‘Adl (Keadilan), Nubuwwah (Kenabian), Khilafah (Pemerintahan), dan Ma’ad (Hasil), Multitype Ownership, Freedom to Act, dan Social Justic, serta Akhlak.
Pertama, Tauhid (keimanan) yang dalam hal ini bisa dimaknai sebagai pengesaan terhadap Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya tujuan akhir atas hidup dan mati manusia. Jadi, segala urusan manusia terhadap makhluk lain harus didasarkan dalam kerangka hubungan dengan Tuhan. Apapun yang dilakukan manusia harus bisa dipertanggungjawabkan secara tuntas kepada Tuhan.
Sistem Ekonomi yang dilakukan dengan tujuan menegakkan nilai keagungan Tuhan, apapun itu agamanya, sangat potensial untuk menjadi solusi atas krisis sistem ekonomi di muka bumi ini.
Kedua, ‘Adl (Keadilan). Bila kapitalisme klasik mendefinisikan adil sebagai “anda dapat apa yang anda upayakan” (you get what you deserved), dan sosialisme klasik mendefinisikannya sebagai “sama rata sama rasa” (no one has a privilege to get more than others), maka Islam mendefinisikan adil sebagai “tidak menzalimi tidak pula dizalimi” (laa tazhlimuuna walaa tuzhlamuun).
Implementasi sistem ekonomi dikatakan Islami jika menjunjung tinggi nilai keadilan oleh siapapun pelakunya, dan bahkan apapun agamanya. Berekonomi dengan landasan kapitalisme, neoliberalisme, atau sosialisme pun bisa juga dikatakan Islami jika pada kenyataannya tidak merugikan atau mengambil hak orang lain.
Ketiga, sistem ekonomi Islam memiliki prinsip Nubuwwah (kenabian) yang memiliki sifat berekonomi secara shiddiq (jujur, benar); amanah (bertanggung jawab, bisa dipercaya dan kredibel); fathonah (cerdik, bijaksana dan intelek); dan tabligh (komunikasi, transparansi dan publikasi).
Keempat, Khilafah (pemerintahan) dalam arti ekonomi Islam diterapkan dalam sebuah naungan pemerintahan yang memiliki kewenangan, tanggung jawab dan kredibilitas untuk mengatur, mengelola, dan mendistribusikan seluruh sumber daya yang menjadi hak publik untuk sebesar-besar kemakmuran bersama. Penguasa ini tak harus merupakan pemerintahan berazaskan Islam.
Kelima, ma’ad (hasil). Adalah wajar jika dalam berekonomi, manusia ingin memperoleh hasil/laba/keuntungan. Keuntungan yang tak cukup hanya bersifat materiil, namun juga keuntungan spiritual yang akan selalu menjadi energi positif bagi akal, hati dan moral sehingga manusia bisa menikmati buah dari berekonomi secara komprehensif.
Keenam, Multitype Ownership (kepemilikan multijenis). Nilai Islam mengakui kepemilikan Negara, swasta maupun campuran, termasuk kepemilikan pribadi dan bersama/publik. Untuk memastikan tidak adanya kezaliman, Negara memiliki hak untuk menguasai cabang-cabang produksi penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Tentu harus dikelola secara adil.
Ketujuh, Freedom to Act (kebebasan bertindak/berusaha). Setiap diri manusia, baik sebagai individu, kelompok maupun keterkaitannya dengan penguasa dan publik, memiliki kebebasan dalam bertindak/berusaha, termasuk dalam bidang ekonomi.
Setiap manusia boleh melakukan aktivitas muamalah atau ekonomi apapun, kecuali semua tindakan mafsadah (segala yang merusak), riba (tambahan yang didapat secara zalim), gharar (uncertainty, ketidakpastian), tadlis (penipuan), dan maysir (perjudian, zero-sum game: orang mendapat keuntungan dengan merugikan orang lain). Karena hukum asal dari fikih ekonomi dan muamalah adalah “semua boleh dilakukan kecuali yang ada larangannya.”
Kedelapan, Social Justice (keadilan sosial). Dalam islam, keadilan diartikan dengan suka sama suka (an taradhin minkum) dan satu pihak tidak mendzalimi pihak lain (latazlimuna wa la tuzlamun). Keadilan sosial bisa terwujud jika masing-masing pihak berperan secara adil sekaligus proporsional dalam perekonomian.
Kesembilan, Akhlak. Sistem ekonomi islami hanya memastikan agar tidak ada transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah. Tetapi kinerja bisnis tergantung pada man behind the gun-nya.  Karena itu pelaku ekonomi (baik sebagai produsen, konsumen, pengusaha, karyawan atau sebagai pejabat pemerintah) harus memiliki moral baik dan benar yang dalam kerangka ini dapat saja dilaksanakan oleh umat non muslim.
Implementasi
Memang tidaklah mudah untuk bisa menerapkan sebuah sistem ekonomi berdasarkan nilai universal ajaran agama dalam naungan rezim sistem ekonomi global berbasis riba (bunga) yang telah menginstall perilaku berekonomi masyarakat selama berabad-abad.
Implementasi sistem ekonomi Islam pun terkena dampaknya. Pada kenyataannya, praktek sistem Ekonomi Islam (khususnya dalam bingkai industri dan keuangan) tetap saja tidak bisa lepas dari pengaruh suku bunga (misalnya).
Fatwa haramnya bunga bank, ditetapkannya UU Perbankan Syariah, insentif pajak atas produk syariah dan berbagai kebijakan lain yang dikeluarkan otoritas penguasa seperti lembaga eksekutif maupun legislatif, Depkeu, BI, Bapepam-LK, dan MUI merupakan support yang signifikan terhadap industri Ekonomi Islam.
Namun ternyata tumbuh kembang industri Ekonomi Islam jauh lebih lambat dibanding industri ekonomi konvensional. Sekedar ilustrasi: Bank Syariah (model lazim dari praktek Ekonomi Syariah) dalam 5 tahun terakhir (Des 2005-2010) hanya menambah aset Rp.76,6 triliun. Bandingkan dengan Bank Konvensional, pada periode yang sama berhasil menambah aset 20 kali lipat dibanding bank syariah, yaitu Rp.1.539 triliun.
Hal ini terjadi selain karena industri konvensional sudah terlanjur lihai dalam berbisnis, industri syariah juga masih belum berhasil menunjukkan perbedaan substansial dan signifikan dibandingkan dengan praktek yang terjadi di konvensional.
Kelengkapan dan kesiapan Industri Ekonomi Islam dari sisi SDM, IT, dan Infrastruktur lainnya pun kalah jauh dibandingkan dengan industri konvensional. Kebijakan-kebijakan  sistem ekonomi yang dikuasai oleh pemerintah juga masih menomorsatukan tumbuh kembang industri berbasis bunga (konvensional).
Terlalu banyak hal yang harus dibenahi terlebih dahulu jika kita ingin agar nilai-nilai universal ajaran Islam itu bisa diterapkan. Tentu sekali lagi tidak harus pemerintahannya berazakan Islam karena nilai Ekonomi Islam itu universal, bisa dan boleh dipraktekkan oleh siapapun.
Bicara sistem Ekonomi Islam memang bukanlah melulu bicara mengenai Lembaga Keuangan Islam dalam bingkai industri. Di luar hingar bingar tumbuh kembang industri ekonomi Islam, publik telah terbiasa melakukan praktek ekonomi Islami seperti jual beli (barang/jasa) yang terjadi antar individu maupun kelompok, transaksi di pasar-pasar tradisional, sewa menyewa, kerja sama bisnis, serta berbagai transaksi lain yang tak berlabel industri.
Nah, hal realistis yang bisa kita lakukan saat ini adalah mari menerapkan nilai-nilai Ekonomi Islam tersebut dari diri pribadi, dalam aktivitas berekonomi keseharian, maupun jika kita sebagai pelaku industri dan keuangan. Jika ada praktek berekonomi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai di atas, kita hindari, atau kalau perlu kita upayakan mengubahnya.
Dan harus diingat, bahwa pada kenyataannya tidak ada jaminan pasti bahwa lembaga keuangan berlabel syariah (Islam) otomatis sudah sepenuhnya menjunjung tinggi nilai-nilai Ekonomi Islam. Belum tentu juga praktek ekonomi kapitalis, sosialis, dan neoliberalis, seluruhnya tidak sesuai dengan nilai Islam. Namun, industri berlabel syariah (Islam) sudah selangkah lebih maju, paling tidak telah mensyariahkan akad/transaksi yang melandasi praktek dan operasionalnya.
Untuk segenap penggiat dan pendukung Ekonomi Islam, janganlah risau jika ada persepsi bahwa syariah dan konvensional itu substansinya sama saja. Kecuali jika industri Ekonomi/Keuangan Islam sudah memberi bukti value added yang substansial (tak hanya dari sisi akad) dibanding konvensional.
Ahmad Ifham Sholihin - Bogor, 11 Maret 2011
http://ahmadifham.wordpress.com/2011/03/17/menyegarkan-kembali-nilai-ekonomi-islam/

Kamis, 08 September 2011

http://arrahmah.com/read/2011/09/07/15096-alhamdulillah-lima-tangki-minyak-nato-dibakar-di-afghanistan.html

http://arrahmah.com/read/2011/09/07/15096-alhamdulillah-lima-tangki-minyak-nato-dibakar-di-afghanistan.html

Salibis AS membunuh salah seorang jurnalis BBC


KABUL (Arrahmah.com) – Salah seorang wartawan BBC dtembak hingga tewas oleh tentara salibis Amerika di Afghanistan pada bulan Juli, seperti diungkapkan oleh laporan yang dipublikasikan kemarin (8/9/2011).

Ahmed Omed Khpulwak (25) berlindung di kamar mandi setelah pertempuran sengit pecah di dekat pasar Tarin Kowt beberapa saat setelah terjadinya pemboman bunuh diri di wilayah itu. Tak lama kemudian, ia ditembak hingga tewas oleh tentara Amerika yang menyangkanya sebagai pelaku bom bunuh diri, BBC melansir pada hari Kamis (8/9).
Brigjen Carsten Jacobson menyatakan bahwa Khpulwak, seperti yang diklaim oleh tentara itu, memegang gadget di tangannya dan berusaha meraih sesuatu di dalam sakunya (yang kemudian diidentifikasi bahwa ia ingin mengambil kartu identitias persnya). Hal itu membuat salibis AS curiga dan segera mengokang senjata dan membuat nyawa Khuplwak melayang.
Jacobson menambahkan para salibis AS itu memang ditugaskan untuk membersihkan bangunan setelah mereka melaporkan bahwa pelaku bom bunuh diri masuk ke dalam gedung.
NATO menyatakan bahwa penyelidikan masih terus dilakukan atas insiden tersebut. (althaf/arrahmah.com)

The Tsunami of Change: Gelombang Revolusi Islam menuju Futuhat Al Aqsha


Apa kaitan tsunami dengan pembebasan (futuhat) Al Aqsha? Apakah revolusi yang saat ini melanda negara-negara di Timur Tengah akan berdampak luas ke seluruh dunia dan dapat membebaskan Al Aqsha dari cengkraman negara zonis yahudi? Kalau ingin berpartispasi, dari mana kita harus memulai?

Gelombang tsunami revolusi Islam : Dari Tunisia hingga Al Aqsha
Tsunami adalah istilah bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan dan nami berarti laut. Secara singkat tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan. Istilah tsunami menjadi populer di saat gempa tektonik berkekuatan 8.5 SR terjadi dan berpusat di Samudra India di kedalaman 20 km selatan kota Meulaboh, Aceh. Gempa tektonik ini disertai gelombang pasang (tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa, dan Thailand.
Kedahsyatan hantaman gelombang tsunami inilah yang mungkin menginspirasi majalah terbitan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP), INSPIRE untuk menjadikannya judul dan bahasan spesial edisi ke-5, Musim Semi 2011, yakni “The Tsunami of Change” atau Tsunami Perubahan. Judul ini juga merupakan sebuah artikel yang ditulis oleh Syekh Anwar Al Awlaki, ulama asal Yaman yang saat ini tengah diburu Amerika Serikat.
Editorial majalah tersebut menulis, “Menurut kami, revolusi yang tengah mengguncang singgasana para diktator itu baik bagi orang-orang Islam, baik bagi mujahidin dan buruk bagi imperialis Barat dan cecunguk-cecunguk mereka di dunia Islam.”
Gelombang tsunami revolusi Islam di Timur Tengah bermula dari Revolusi Tunisa yang dipicu oleh seorang tukang sayur bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun. Muhammad Bouazizi  adalah simbol pemuda tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan ibukota Tunisia. Pemuda di sana banyak yang bergelar sarjana namun sehari-hari hanya berkeliaran di cafĂ©-cefe di jalan berdebu kota miskin, menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan jaminan pekerjaan yang layak.
Revolusi Tunisia meledak ketika Bouazizi tidak tahan melihat kedzoliman rezim tiran Tunisia atas dirinya dan rakyatnya. Dia pun menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri. Ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya tetapi membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas kediktaktoran rezim yang berkuasa. Rezim diktaktor Tunisia, Ben Ali pun akhirnya tumbang dan tanpa disadarinya, Bouzazizi telah memicu gelombang tsunami revolusi Islam yang akan menggulung para tiran lainnya di Timur Tengah.
Revolusi Tunisia telah memicu solidaritas warga di dunia Arab, terutama umat Islam yang muak dengan sistem pemerintahan diktaktor dan sekuleristik yang selama ini diterapkan. Setelah Tunisia, gelombang tsunami revolusi Islam merembet ke Mesir dan berhasil menggulingkan fir’aun modern Mesir, Husni Mubarak.
Gelombang tsunami revolusi Islam pun meluas ke Yaman dan siap menyapu kekuasaan tiran Ali Abdullah Saleh. Begitu juga Libia, tidak luput dari terjangan badai tsunami revolusi Islam, dimana saat ini masa-masa kepemimpinan diktaktor Moamar Khadaffi berada di ujung tanduk digempur habis-habisan oleh para pejuang revolusi. Kejatuhan Khadaffi tinggal menghitung hari.
Setelah Libia, gelombang tsunami revolusi Islam akan menyusul menerjang Suriah, Yordania, dan bukan tidak mungkin akan menyapu negara-negara Timur Tengah lainnya. Akhirnya, gelombang tsunami revolusi Islam akan bermuara ke Al Aqsha, kota suci ummat Islam yang saat ini berada dalam cengkraman yahudi-zionis-Israel.
Syekh Anwar Al Awlaki memberikan catatan penting dalam tulisannya bahwa “Revolusi mampu mematahkan ketakutan yang selama ini mendekam di hati dan benak kaum Muslimin bahwa para tiran tidak bisa dikalahkan.”
Hantaman tsunami menggulung para tiran Timur Tengah
Dalam buku “Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib baru”, DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan hakikat penjajahan Amerika di Timur Tengah. Beliau berkata :
“Seluruh negara Arab sudah terjajah, khususnya daerah Teluk dan daerah kaya minyak semuanya telah terjajah. Aku tidak mengecualikan satupun. Semua negara kita terjajah. Dan penjajahan itu bisa dalam bentuk nyata dan juga bisa dalam bentuk tersembunyi/samar.”
Beliau melanjutkan:
“Saya yakin bahwa rezim Saudi sekarang menjadi tongkat pemukul di tangan Amerika, tidak terkecuali. Ini bukan rezim sendiri, tapi ini kepanjangan tangan Amerika dalam menguasai Kawasan Teluk. Dan jika kita serang pengaruh Amerika dengan kekuatan, baik melalui perlawanan atau dengan cara yang mereka sebut sebagai “Teror” maka saya yakin bahwa rezim ini akan segera jatuh.”
Artinya, pemerintah Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia telah menjadi partner Salibis dan Amerika dalam melawan jihad dan memerangi mujahidin serta agama Islam dan kaum Muslimin. Amerika menjadikan mereka sebagai kaki tangannya untuk menguasai dan menjajah Timur Tengah dan dunia Islam. Oleh karena itu, jika kita ingin memerangi dan menghancurkan Amerika maka sudah tentu kita juga berhadapan dengan antek-anteknya, yang notabene dari kulit dan bangsa serta agama kita sendiri, yakni rezim-rezim tiran Timur Tengah maupun negara-negara lainnya di dunia ini.
Tidak bisa dipungkiri, tumbangnya para tiran Timur Tengah melempangkan jalan menuju pembebasan Palestina. Ma’sadatul Mujahidin di Palestina dengan sangat gembira dan penuh suka cita mengucapkan selamat atas lengsernya fir’aun Mesir, Husni Mubarok. Namun mereka meminta perjuangan terus berlanjut dan berpesan :
“Janganlah seorang dari antum sholat fajar kecuali di Gaza, karena perbatasan belum runtuh.”
Syekh Mujahid, Asy Syahid (Insya Allah) Usamah bin Laden bersumpah :
“Demi jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, yang mengangkat langit tanpa tiang. Sungguh, janganlah Amerika dan orang-orang yang berada di dalamnya bermimpi untuk hidup tenang hingga saudara-saudara kami yang berada di Palestina hidup dengan tenang.”
Faktanya, para tiran diktaktor Timur Tengah inilah yang menjadi para pelayan dan pembela kepentingan Amerika dan sekutu-sekutunya, khususnya kepentingan zionis-yahudi-Israel dalam mencengkram bumi suci Palestina dan penistaan terhadap Masjid suci Al Aqsha. Saat ini penguasa zionis Israel sedang berdebar, takut dan harap-harap cemas melihat dahsyatnya gelombang tsunami revolusi Islam yang akan menggulung mereka sekaligus mimpi-mimpi jahat mereka untuk mendirikan negara Israel Raya.
Al Aqsha di bawah cengkraman yahudi-zionis-Israel
Bumi Palestina adalah bumi yang diberkahi. Di sana terdapat Masjid Al Aqsha, kiblat pertama kaum Muslimin dan tempat mi’raj Nabi Muhammad SAW. Saat ini Palestina dalam cengkraman yahudi-zionis-Israel, hingga sampai kapan pun, sebelum Palestina kembali dibebaskan, masalah Palestina akan tetap menjadi masalah sentral (pusat) bagi kaum Muslimin.
Rezim-rezim tiran di Timur Tengah dan dunia Islam hingga saat ini tidak tergerak sama sekali untuk membebaskan Masjid Al Aqsha dari cengkraman yahudi-zionis-Israel. Bahkan para pemerintah diktaktor ini, seperti Mesir dan Saudi, berkolusi bersama musuh zionis salibis di dalam mengembargo saudara Muslim kita di Gaza dan melarang saudara Muslim di sana untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya yang pokok, berupa makanan dan obat-obatan.
Sadisnya lagi, rezim tiran Mesir di bawah fir’aun Husni Mubarak membocorkan saluran air dan gas antara perbatasan Mesir dan Gaza , yang membunuh orang-orang tak berdosa di sana. Na’udzu billah min dzalik!
Syekhul Jihad, Abdullah Azzam mengatakan bahwa kemuliaan Palestina tidak mungkin kembali hanya dengan ucapan-ucapan saja. Beliau mengatakan :
“ Apakah mereka bisa mengembalikan sejengkal saja dari tanah Palestina?. Sesungguhnya dien Allah (Islam) tidak akan menang hanya dengan omong kosong belaka, dan negeri-negeri Islam juga tidak akan terjaga hanya dengan pantun, lagu dan syair serta lainnya.”
Syekh Aiman Az Zawahiri, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Palestina dengan mengeluarkan pesan dengan judul “Palestina merupakan urusan kita dan urusan setiap muslim”.
Dalam sebuah wawancara dengan As Sahab Media beliau menyatakan :
“Oleh karena ini saya ingatkan kepada setiap orang yang merdeka dan terhormat di Palestina agar tidak membantu menjual Palestina dan tidak membantu menyerahkannya kepada yahudi ataupun berkompromi dengan mereka, meskipun hanya sebutir pasir.
Saya juga tujukan (peringatan saya) kepada setiap orang yang telah masuk dalam organisasi sekuler yang berpaling menjauh dari syariat dan menyerahkan sebagian besar Palestina, dan setuju dengan solusi setan barat dan timur.
Saya tujukan kepada mereka dan saya katakan : Kembalilah kalian kepada kebenaran, kepada jalan Islam dan jihad, berdirilah kalian bersama umat muslim di bawah panji tauhid melawan invasi baru salibis-zionis. Jika kita tidak menyadari bahwa Palestina bukanlah pusat peperangan antara salibis melawan Islam, maka kita tidak akan menyadari sesuatupun. Yakinlah kalian dengan Rabb kalian Sang Pencipta, Pemberi Rizki, Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan ketahuilah bahwa organisasi-organisasi tersebut “tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (Al-Furqan: 3). Lalu bagaimana mungkin mereka dapat melakukan segala sesuatu untuk kalian?”

Sementara itu, Syekh Abu Mush’ab Az Zarqawi (semoga Allah merahmatinya) juga pernah mengatakan ucapan masyhur tentang perjuangan para mujahidin untuk membebaskan (futuhat) Al Aqsha, dengan ucapannya :
“Sesungguhnya kami berperang di Irak sementara mata kami tertuju ke Baitul Maqdis”.
Lihatlah, betapa masalah Palestina telah menjadi masalah seluruh kaum Muslimin yang masih ada setitik iman dan ghiroh Islam dalam dadanya. Masalah ini tidak bisa dijadikan masalah lokal, hanya khusus rakyat Palestina saja, tetapi harus menjadi masalah global, seluruh ummat Islam sedunia.
Kewajiban kaum Muslimin untuk membebaskan (futuhat) tanah kaum Muslimin di Palestina, tempat Masjidil Aqsha, tempat Isra Nabi Muhammad SAW., adalah kewajiban yang tidak dapat ditolak lagi. Alhamdulillah, gelombang tsunami revolusi Islam yang saat ini terjadi di Timur Tengah Insya Allah, dengan idzin-Nya akan melapangkan jalan kita menuju pembebasan Al Aqsha.
Dari sini kita memulai di Al Aqsha kita bertemu
Membebaskan Masjid Al Aqsha di Palestina adalah impian setiap Muslim sejati. Membebaskan Palestina adalah impian tertinggi kaum Muslimin, khususnya mujahidin. Membebaskan Al Aqsha adalah tujuan utama pergerakan jihad di Afghanistan sejak kepemimpinan Syekhul Jihad, Syekh Abdullah Azzam rahimahullah, hingga kepemimpinan Syekh Usamah bin Laden rahimahullah.
Futuhat atau pembebasan Masjid Al Aqha adalah sebuah kepastian, karena dia adalah janji Allah SWT., serta nubuwah Rasulullah SAW.
Allah SWT., berfirman :
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila dating saat hukuman bagi kejahatan yang pertama dari kejahatan itu, Kami mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampong (dan lorong) ke seluruh negeri. Suatu ketetapan yang pasti akan terlaksana.” (QS Al Isra’ : 4-5)
Asy Syekh As’ad Bayudh At Tamimi menjelaskan dalam bukunya “Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al Qur’an” :
“Dan ayat-ayat di atas diisyaratkan bahwa kaum Muslimin akan memasuki Masjid Al Aqsha seperti (nenek moyang mereka) pernah memasukinya dahulu dengan kemenangan gilang-gemilang, dan akan menghancurleburkan semua proyek keangkuhan Yahudi itu baik yang material maupun yang moral spiritual.
Rasulullah SAW., bersabda :
“Belum akan tiba kiamat, hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, kemudian mereka diperangi oleh kaum Muslimin, sehingga batu dan pohon berkata : Hai Muslim, hai hamba Allah! Inilah seorang Yahudi bersembunyi di belakang ku, datangilah dan bunuhlah, kecuali pohon Al-Ghorqad, karena ia tergolong pohon (simpatisan) kaum Yahudi.” (HR, Asy-Syaikhan : Al Bukhari dan Muslim)
Asy Syekh As’ad Bayudh At Tamimi kembali menjelaskan bahwa pohon Al Gharqad itu terbilang pohon perdu yang bercabang-cabang, dewasa ini banyak ditanam hampir di seluruh kawasan Palestina, dan hingga kini penduduk An-Naqab di Palestina menamakannya pohon “Gharqad”, meskipun di tempat-tempat lainnya di sana sudah berubah nama dan pohonan ini ditanam oleh bangsa Yahudi sendiri.
Sebuah nubuwah lainnya diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)”. Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).
Gelombang tsunami revolusi Islam yang telah menyapu Tunisia, disusul Mesir, Yaman, Libia, dan seterusnya bisa jadi menandai kebenaran ayat-ayat Allah dan nubuwah Rasulullah SAW, yakni dengan diterapkannya kembali syariat Islam secara sempurna, tegaknya Khilafah Islam, dan bangkitnya umat Islam secara global.
Di saat itulah, seluruh kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia, khususnya mujahidin, melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju Al Aqsha untuk membebaskannya dari cengkraman tangan kotor yahudi-zinois-Israel.
What next?
Syekh ‘Athiyatulloh Abu ‘Abdir Rohman, dalam artikelnya berjudul “Revolusi Bangsa dan Lengsernya Diktaktor Arab” mengatakan :
“Benar, revolusi ini tidaklah sempurna sebagaimana yang kita harapkan. Akan tetapi hilangnya sebagian keburukan atau sebagian besarnya, adalah sesuatu yang menggembirakan orang. Meskipun kita juga berharap adanya langkah ini adalah pengantar untuk kebaikan yang akan datang dan pembuka bagi pintu-pintu lainnya dengan izin Alloh.”
Dengan demikian, apapun awal dan akhirnya, gelombang revolusi Islam yang terjadi di Timur Tengah tetap memercikan harapan besar bagi perlawanan global kaum Muslimin di seluruh dunia.
Ummat Islam saat ini baik yang berada di Tunisia, Mesir, al-Jazair, Libiya, Jordania, Yaman dan yang lainnya membutuhkan orang yang mengingatkan mereka pada Alloh di hari-hari ini, mengingatkan mereka dengan hari-hari Alloh dan sunnah-Nya, serta menjelaskan pada mereka dengan lembut mengenai tempat-tempat yang penuh pelajaran dan hikmah yang berfaedah. Dan ini adalah peran penting untuk para da’i (penyeru) kepada Alloh, penuntut ilmu dan harokah-harokah/gerakan-gerakan islam.
Syekh ‘Athiyatullah menambahkan :
“Demikianlah Alloh telah menciptakan perumpamaan bagi manusia, dan generasi muda pun bisa meneruskan aktivitas mereka di dunia kita yang baru, meskipun ada berbagai usaha yang dikerahkan oleh pemerintahan ‘arob yang rusak untuk merusak para pemuda pada seluruh level dan juga (usaha) untuk menidurkan mereka. Akan tetapi pemerintahan ‘arob itu adalah pemerintahan yang bodoh tidak perhatian, serta lebih mirip orang yang bernafsu. Sedangkan Rovolusi haruslah ada selama apapun masanya, karena inilah sunnah kauniyyah (putaran alam) yang kita ketahui dari sejarah, ilmu kemanusiaan, pengalaman dan perhitungan ilmu psikis dan sosial yang simpel.
Karena sesungguhnya terkumpulnya kerusakan dengan model yang ada dalam ummat dan masyarakat ‘arob islam kita, tidak mungkin terus eksis dalam waktu yang sangat lama, hingga menjadikan ledakan yang dinyalakan oleh apa yang Alloh tetapkan dan oleh orang yang Alloh siapkan, dan kerja keras yang tidak dapat dihitung mengumpulkan mesiunya untuk menghadapi kerusakan yang terakumulasi itu. Di antara para pemuda itu ada yang baik dan ada yang tidak demikian. Sedangkan Alloh lebih mengetahui apa yang dikerjakan oleh makhluq, apa yang mereka niatkan dan apa yang mereka inginkan. Di antara mereka ada pula yang beruntung lagi sukses di akhirat, dan di antara mereka ada yang jika diberitahukan mengenai akhiratnya, tidak mendapatkan apapun kecuali kerugian dan (kita) berlindung pada Alloh, akan tetapi semua keseriusan itu terkumpul untuk melawan pemerintahan tiran itu.”
Faktanya, saat ini gelombang revolusi Islam di Timur Tengah mampu menghilangkan penghalang terbesar antara mujahidin dengan pembebasan Al Aqsa, yakni para penguasa tiran. Kini, setelah antek-antek Amerika dan Israel tersebut tersingkirkan satu demi satu, maka jalan menuju futuhat Al Aqsha semakin dekat.
Antek-antek Barat tengah berkemas pergi, isu Palestina kembali semarak, khotbah-khotbah tentang jihad untuk membela ummat Islam akan terdengar secara umum dalam masyarakat yang telah membebaskan dirinya dari para tiran, dan diharapkan tindakan-tindakan keamanan bersenjata berat yang ditimpakan oleh raja-raja lalim tersebut demi mengamankan Amerika dan sekutunya serta untuk selalu meneror rakyatnya akan berakhir.
Setelah itu, kita harus segera mempersiapkan diri dan mengukur segala kemampuan. Hal ini sebagaimana yang dinasehatkan oleh Syekh ‘Athiyatullah “
“Hendaknya kita mengetahui kadar (kemampuan) kita semua, dan hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam ta’wun di atas kebaikan, ketaqwaan dan jihad di jalan Alloh. Semua (bermula) dari tempatnya dan dengan apa yang dia mampu serta dengan apa yang sesuai dalam haknya. Sedangkan Alloh akan membuka dan menurunkan kelapangan dan pertolongan dengan kejujuran orang-orang yang jujur, ketulusan orang-orang yang ikhlash dan doanya orang-orang lemah yang dikalahkan.”
Gelombang revolusi Islam tengah berlangsung di Timur Tengah dan akan melanda seluruh dunia menuju satu fokus utama yakni membebaskan (futuhat) Al Aqsha. Dari sini kita memulai di Al Aqsha kita bertemu.
“Ya Allah ijinkanlah kami bertemu di al-Aqsha.”
Wallahu’alam bis showab!
By: M. Fachry
International Jihad Analysis
Jum’at, 23 Jumadil Akhir 1432 H/27 Mei 2011 M
Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2011 Ar Rahmah Media Network
http://hizbut-tahrir.or.id/2011/08/03/bubarkan-kpk-atau-bubarkan-demokrasi/

link penting

kunjungi di 
http://hizbut-tahrir.or.id

Rabu, 10 Agustus 2011

Allah Berjanji akan Melipatgandakan Perbuatan Hamba-hamba-Nya yang Berbuat Kebaikan



 Allah berjanji akan melipatgandakan perbuatan hamba-hamba-Nya yang berbuatkebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalahsebagai berikut:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160).
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.s. an-Nisa’: 40).
Tanda yang paling jelas bahwa Allah melipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia sangatlah singkat waktunya, yang lebih kurang berlangsung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memperoleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).
Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini. Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagaimana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun, sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “tak terbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Orang-orang yang taat kepada Allah ketika di dunia, mereka ketika di akhirat akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya, mereka akan memperoleh apa saja yang mereka inginkan, yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah.